IDEN
IDEN

Siaran Pers

Siaran Pers: Tak Hanya Belajar Agama, Santri Ikut Mendata Kekayaan Pangan Lokal Indonesia

Kamis, 30 Juli 2026
Siaran Pers: Tak Hanya Belajar Agama, Santri Ikut Mendata Kekayaan Pangan Lokal Indonesia
Para santriwati Pesantren Daarul 'Uluum saat mengamati dan mengidentifikasi keanekaragaman tanaman pangan lokal dalam kegiatan Ekopesantren di Lido, Bogor. (Foto: KEHATI)

BOGOR — Di tengah semakin seragamnya makanan yang dikonsumsi masyarakat Indonesia, ada satu kekayaan yang perlahan mulai terlupakan: pangan lokal. Padahal, ribuan jenis umbi, serealia, kacang-kacangan, buah, hingga rempah khas Nusantara bukan hanya menyimpan cita rasa dan budaya, tetapi juga menjadi modal penting menghadapi perubahan iklim dan menjaga ketahanan pangan nasional.

Kesadaran inilah yang ingin dibangun Yayasan KEHATI bersama Koalisi Rakyat untuk Kedaulatan Pangan (KRKP) melalui kegiatan Ekopesantren di Pondok Pesantren Daarul 'Uluum, Lido, Bogor. Sebanyak lebih dari 200 santri diajak mengenal kembali kekayaan pangan lokal Indonesia sekaligus memanfaatkan teknologi digital untuk mendokumentasikannya melalui aplikasi Nusantara Food Biodiversity.

Di tengah dominasi makanan instan dan tren kuliner global yang mudah ditemui di media sosial, generasi muda justru semakin jauh dari pangan asli daerahnya sendiri. Banyak anak muda mengenal quinoa, oat, atau avocado toast, tetapi belum tentu mengetahui potensi sorgum, ganyong, talas, jewawut, suweg, atau berbagai jenis pisang lokal yang tumbuh di Indonesia.

Padahal, keragaman pangan lokal merupakan salah satu kekuatan terbesar Indonesia sebagai negara megabiodiversitas. Selain memiliki nilai gizi tinggi, banyak komoditas lokal terbukti lebih adaptif terhadap perubahan iklim, membutuhkan lebih sedikit air, serta mampu tumbuh di berbagai kondisi lahan. 

"Melestarikan pangan lokal bukan berarti kembali ke masa lalu. Justru ini adalah langkah maju untuk membangun sistem pangan yang lebih tangguh menghadapi masa depan" ujar Rika Anggraini, Direktur Komunikasi dan Kemitraan Yayasan KEHATI.

Menurutnya, perubahan pola konsumsi masyarakat tidak bisa dilepaskan dari hilangnya pengetahuan generasi muda mengenai kekayaan hayati yang dimiliki Indonesia.

"Pangan lokal bukan sekadar apa yang kita makan. Di balik setiap jenis pangan terdapat pengetahuan, budaya, sejarah, hingga keanekaragaman hayati yang harus terus dijaga. Ketika kita kehilangan pangan lokal, yang hilang bukan hanya pilihan di meja makan, tetapi juga bagian dari identitas bangsa."

Dalam kegiatan ini, para santri tidak hanya mendapatkan materi mengenai sejarah, manfaat, hingga tantangan pangan lokal Indonesia, tetapi juga belajar menggunakan aplikasi Nusantara Food Biodiversity, sebuah platform digital yang memungkinkan masyarakat mendokumentasikan berbagai jenis pangan lokal dari daerah masing-masing. Data yang dihimpun nantinya diharapkan dapat memperkuat upaya konservasi sumber daya genetik, mendukung penelitian dan aksi lokal sekaligus menjadi referensi dalam pengembangan kebijakan pangan nasional.

Koordinator Nasional KRKP Said Abdullah mengatakan bahwa pelestarian pangan lokal tidak akan berhasil jika hanya mengandalkan pemerintah atau peneliti.

"Generasi muda memiliki peran besar sebagai agen perubahan. Mereka bisa membuat perubahan dalam hal penguatan pangan lokal dengan menggunakan teknologi. Ketika anak muda mulai mengenali, mengonsumsi, dan mendokumentasikan pangan lokal, mereka sedang membantu menjaga keberagaman hayati, ketahanan dan kedaulatan pangan Indonesia."

Melalui pendekatan yang dekat dengan keseharian generasi muda, KEHATI berharap pesantren dapat berkembang menjadi ruang lahirnya agen-agen perubahan yang tidak hanya peduli pada lingkungan, tetapi juga mampu menghidupkan kembali pangan lokal sebagai bagian dari gaya hidup yang sehat, berkelanjutan, dan membanggakan.