IDEN
IDEN

Penguatan Kelompok Nelayan

Sektor perikanan memiliki peranan strategis dalam perekonomian nasional, khususnya bagi masyarakat yang bermukim di wilayah pesisir. Nelayan merupakan salah satu pilar penting dalam sistem ketahanan pangan nasional, penyedia sumber protein bagi masyarakat, serta penggerak ekonomi lokal melalui aktivitas penangkapan, pengolahan, dan perdagangan hasil laut.

Bagi masyarakat pesisir, laut bukan hanya sumber penghidupan, tetapi juga bagian dari identitas sosial dan budaya yang telah diwariskan secara turun-temurun. Aktivitas melaut menjadi mata pencaharian utama bagi jutaan nelayan kecil di Indonesia yang bergantung pada ketersediaan sumber daya ikan untuk memenuhi kebutuhan ekonomi keluarga mereka.

Namun, seiring meningkatnya permintaan pasar dan kemajuan teknologi penangkapan, tekanan terhadap sumber daya perikanan semakin tinggi. Praktik penangkapan yang tidak ramah lingkungan, penurunan kualitas habitat laut, serta lemahnya tata kelola sumber daya perikanan menjadi tantangan nyata bagi keberlanjutan ekosistem laut dan kesejahteraan nelayan itu sendiri.

Dalam konteks tersebut, penguatan kapasitas nelayan dan penerapan prinsip-prinsip pengelolaan perikanan berkelanjutan menjadi langkah penting. Upaya ini tidak hanya bertujuan menjaga kelestarian sumber daya ikan, tetapi juga memastikan keberlangsungan ekonomi masyarakat pesisir yang bergantung pada laut.

KEHATI memiliki komitmen terhadap konservasi keanekaragaman hayati dan pembangunan berkelanjutan, salah satunya adalah di Pulau Barrang Caddi, sebuah pulau kecil berpenghuni yang berada di gugusan Kepulauan Spermonde, perairan Selat Makassar.  Pulau ini dikenal sebagai salah satu pusat aktivitas nelayan penangkap ikan demersal yang sudah berlangsung turun-temurun.

Di tengah upaya menjaga kelestarian sumber daya laut,  muncul ketegangan antara nelayan yang telah menerapkan praktik ramah lingkungan dan mereka yang masih menggunakan metode Penangkapan Ikan Tidak Ramah Lingkungan (PITRAL). Konflik semakin kompleks dengan hadirnya nelayan dari luar wilayah yang menggunakan alat destruktif seperti bom dan bius, merusak ekosistem laut dan mengancam sumber penghidupan masyarakat setempat.

Melalui kemitraan dengan Yayasan Konservasi Laut Indonesia (YKL), KEHATI melaksanakan program Penguatan Kelompok Perikanan Demersal Berkelanjutan Pulau Barrang Caddi. Ini merupakan implementasi program prototype perikanan demersal di Kota Makassar oleh pemangku kepentingan perikanan berkelanjutan Sulawesi Selatan. Program ini bertujuan mendorong tata kelola perikanan skala kecil yang berkelanjutan, berbasis kesadaran bersama dan kolaborasi multipihak.

Melalui program ini, masyarakat nelayan Barrang Caddi difasilitasi untuk menyusun kesepakatan bersama dalam pengelolaan sumber daya perikanan, termasuk sistem “buka-tutup” kawasan tangkap. Selain itu, disusun pula profil perikanan skala kecil Pulau Barrang Caddi, inventarisasi armada perikanan dan data nelayan, serta penguatan sistem pengawasan dan perlindungan sumber daya laut.

Program yang berjalan sejak Juni 2024 hingga April 2025 ini menghasilkan sejumlah capaian penting:

  • Database Nelayan dan Armada Lengkap

Sebanyak 166 nelayan demersal skala kecil telah terdokumentasi lengkap, termasuk data kelompok, kapal, dan dokumen administrasi. Data ini dimanfaatkan oleh Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Sulawesi Selatan untuk membantu nelayan melengkapi dokumen legal seperti PAS Kecil (bukti kepemilikan kapal), serta memudahkan akses terhadap Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi dan kredit usaha. Nelayan juga didampingi untuk mendaftar Kartu KUSUKA dan BPJS Ketenagakerjaan, demi perlindungan sosial dan akses bantuan pemerintah.

  • Penguatan Pengawasan Masyarakat (Pokmaswas)

YKL memfasilitasi pertemuan yang diikuti 11 Pokmaswas dari berbagai pulau di Sulawesi Selatan, seperti Barrang Lompo, Kapoposang, Tanakeke, hingga Selayar. Pertemuan ini menjadi wadah berbagi pengalaman, menyusun standar bersama dalam pengawasan, serta membentuk jejaring Pokmaswas lintas wilayah yang lebih solid.Pokmaswas Sipakatau — kelompok pengawas masyarakat Barrang Caddi — bahkan telah melakukan dua kali patroli uji coba dengan sistem logbook dan panduan pengawasan yang baru.

  • Kesepakatan Daerah Perlindungan Laut (DPL)

Salah satu tonggak penting program ini adalah lahirnya kesepakatan bersama nelayan tentang penetapan Daerah Perlindungan Laut (DPL) yang terintegrasi dengan Vertical Artificial Reef (VAR). Proses penyusunan dilakukan secara partisipatif melalui serangkaian pertemuan mulai Februari hingga penandatanganan kesepakatan pada Juni 2025.

  • Penyusunan Profil dan Panduan Pengelolaan

Melalui pendekatan Participatory Rural Appraisal (PRA), nelayan bersama fasilitator menyusun profil perikanan demersal Pulau Barrang Caddi. Tak hanya itu, disusun pula draft Panduan Monitoring, Controlling, and Surveillance (MCS) yang mengintegrasikan SOP dan kesepakatan lintas pemangku kepentingan.

Dengan berakhirnya kerja sama hibah bersama YKL pada April 2025, program ini meninggalkan pondasi kuat bagi pengelolaan perikanan yang lebih berkelanjutan. Tidak hanya memperkuat kapasitas nelayan, tetapi juga membangun sistem tata kelola yang adil, transparan, dan berpihak pada kelestarian laut. 

(Mitra : Yayasan Konservasi Laut Indonesia)