Pangan Berkeadilan
Sebagai wilayah kepulauan yang rentan terhadap perubahan iklim, Nusa Tenggara Timur (NTT) menghadapi tantangan serius terhadap ketahanan pangan dan keberlanjutan lingkungan. Mayoritas masyarakatnya menggantungkan hidup dari sektor pertanian dan perikanan yang kini kian terancam akibat penurunan produktivitas lahan, kekeringan, serta hilangnya sumber pangan lokal. Di tengah situasi ini, Yayasan KEHATI bersama para mitra berupaya menghadirkan ruang partisipasi yang adil melalui dua program utama: Voices for Just Climate Action (VCA) – Koalisi Pangan BAIK dan Urban Futures (Pangan Bernas).
Kedua inisiatif—Urban Futures dan Pangan Bernas—membuktikan bahwa komunitas anak muda mampu menjadi motor penggerak perubahan di Manggarai Barat. Dengan dukungan KEHATI dan para mitra, mereka tidak hanya beradaptasi terhadap krisis iklim, tetapi juga memimpin transformasi menuju sistem pangan yang adil, mandiri, dan berkelanjutan.
Mitra : Yayasan Humanis
Pangan BAIK
Mendorong Aksi Iklim yang Berkeadilan
Sejak 2021, Koalisi Pangan BAIK (Beragam, Adaptif, Inklusif, Kokreasi) menjadi wadah bagi perempuan, anak muda, dan petani di Flores dan Lembata untuk menyuarakan solusi iklim berbasis pangan lokal. Didukung oleh Yayasan Humanis dan Inovasi Sosial (afiliasi Hivos), program ini menghubungkan masyarakat akar rumput dengan pemangku kebijakan agar solusi iklim lebih inklusif dan berkeadilan.
Selama tiga tahun, program ini berhasil memfasilitasi kajian dampak iklim di 13 desa, pendirian forum aksi iklim, advokasi kebijakan, serta pengembangan wirausaha hijau berbasis pangan lokal. Para local champion kini mampu mengembangkan usaha seperti olahan pangan sehat, konservasi mata air, dan kampanye publik melalui festival, kelas memasak, serta media lokal dengan tema “Kampanye Iklim di Meja Makan: Sehat untuk Diriku dan Bumiku.”
Koalisi ini juga berperan aktif dalam mendorong kebijakan daerah, seperti terbentuknya Sekretariat Bersama Pembangunan Berketahanan Iklim di Manggarai dan penerbitan Peraturan Gubernur NTT No. 80/2024 tentang penganekaragaman konsumsi pangan lokal. Pada tingkat nasional, Policy Brief “Transformasi Sistem Pangan Negara Kepulauan” disampaikan kepada Bappenas dan Bapanas sebagai kontribusi nyata terhadap kebijakan pangan berkelanjutan.
Urban Futures
Orang Muda sebagai Penggerak Sistem Pangan Lokal
Di Kabupaten Manggarai Barat, program Urban Futures (UF) menempatkan generasi muda sebagai pelaku utama dalam membangun tata kelola sistem pangan lokal yang adil dan berkelanjutan. Program global berdurasi lima tahun (2023–2027) ini berupaya mewujudkan Manggarai Barat sebagai kabupaten yang tangguh terhadap perubahan iklim, menjunjung kearifan lokal, dan berdaulat pangan. Melalui program ini, anak muda aktif mengembangkan pertanian, perikanan, dan kewirausahaan hijau yang berorientasi pada keberlanjutan.
Pelaksanaan program ini dijalankan oleh Konsorsium Pangan Bernas, yang terdiri atas Yayasan Keanekaragaman Hayati Indonesia (KEHATI), Koalisi Rakyat untuk Kedaulatan Pangan (KRKP), dan Yayasan Komodo Indonesia Lestari (YAKINES). Nama Pangan Bernas menggambarkan konsep pangan yang penuh dan berdaya, karena masyarakat mengandalkan sumber daya lokal dari darat maupun laut untuk memenuhi kebutuhan pangan mereka.
Konsorsium ini membentuk Forum Multi Pihak (MSF) Sistem Pangan Manggarai Barat, yang melibatkan 63 lembaga dari unsur pemerintah, kelompok orang muda, dan sektor swasta. Pemerintah Kabupaten Manggarai Barat telah mengesahkan forum ini melalui SK Bupati. MSF menjalankan tiga kelompok kerja utama, yaitu:
Koordinasi dan Dialog,
Kebijakan dan Program, dan
Manajemen Informasi dan Pengetahuan.
Di wilayah dampingan program, Konsorsium Pangan Bernas telah membentuk 10 kelompok orang muda serta 1 forum orang muda di tingkat kabupaten. Para anggota kelompok ini aktif mengembangkan kewirausahaan hijau berbasis potensi lokal, seperti pengolahan ikan, pengembangan kopi, dan pertanian organik.
Konsorsium Pangan Bernas juga mendorong lahirnya model kebijakan pangan lokal yang inklusif, berdaulat, adil, berkelanjutan, dan akuntabel, dengan anak muda sebagai penggerak utamanya. Konsorsium ini memfasilitasi berbagai kegiatan seperti pelatihan gizi, advokasi kebijakan, food policy innovation camp, workshop bersama SKPD dan MSF, pelatihan jurnalistik, serta penyusunan Naskah Akademik Sistem Pangan Manggarai Barat dan Rencana Aksi Daerah (RAD) Pangan dan Gizi. Melalui kegiatan tersebut, mereka memastikan kebijakan daerah berpihak pada pangan lokal, keberlanjutan ekosistem, dan kesejahteraan generasi muda.