
Pengolahan sampah plastik menjadi paving block kini menjadi salah satu pendekatan inovatif dalam program Mangrove Blue Carbon yang dijalankan di wilayah pesisir Banten. Program ini merupakan inisiatif kolaboratif antara Yayasan Lestari Alam Kita (SALAKA), Yayasan KEHATI, dan PT. Asahimas Chemical untuk melestarikan ekosistem mangrove sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat pesisir.
Sampah plastik yang mencemari kawasan pesisir, khususnya di sekitar mangrove, terbukti menghambat proses rehabilitasi. Plastik yang terbawa arus laut dapat melilit akar bibit mangrove, menutup pori tanah, dan menyebabkan kegagalan tumbuh. Pengolahan sampah menjadi paving block dilakukan dengan tujuan mengurangi beban lingkungan sambil menciptakan produk bernilai guna bagi masyarakat.
Kegiatan pengenalan teknologi sekaligus pelatihan pengolahan sampah plastik menjadi paving block dimulai pada Oktober 2024 lalu, di daerah Depurasi Kekerangan, Desa Panimbang Jaya, Kecamatan Panimbang, Kabupaten Pandeglang, Provinsi Banten. Hingga sekarang kegiatan inovatif ini dikelola oleh Kelompok Peduli Lingkungan Pesisir dan Mangrove (KOMPAKSI) yang beranggotakan warga setempat. Kelompok ini didampingi oleh para dosen Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (UNTIRTA).
Edukasi Masyarakat Untuk Kelola Sampah
KOMPAKSI adalah kelompok masyarakat yang prihatin bahwa pasca tsunami Selat Sunda tahun 2018, mangrove wilayah-wilayah pesisir Pandeglang mengalami kerusakan lebih parah.
Mereka berperan mengajak warga lain untuk bergabung dalam pengelolaan sampah sekaligus mengedukasi warga.
Peserta pelatihan diajarkan tentang proses pengolahan sampah plastik, mulai dari pemilahan, pencacahan, peleburan plastik, hingga pencetakan menjadi paving block. Mereka juga mendapatkan pengetahuan mengenai berbagai jenis plastik yang dapat didaur ulang dan berbagai teknologi inovatif yang dapat digunakan dalam proses produksi.
Dalam keterangannya, Adi Susanto, dosen Universitas Sultan Ageng Tirtayasa yang menjadi pendamping kegiatan tersebut dari sisi penerapan teknologi, mengatakan bahwa proses pembuatan paving block dari sampah plastik ini melibatkan beberapa tahapan, diawali dengan pengumpulan sampah plastik, terutama berjenis High-Density Polyethylene (HDPE) dan Polypropylene (PP), dari perairan Selat Sunda dan pesisir.
Potensi Ciptakan Lapangan Kerja
Proses pengolahan sampah inovatif ini dianggap berpotensi menciptakan lapangan kerja di kawasan pesisir. “Proses pengumpulan dan pengolahan sampah plastik ini berpotensi menciptakan lapangan kerja baru dan sumber pendapatan bagi masyarakat pesisir. Tapi untuk saat ini masih dalam tahap pengenalan dan uji coba,” ujar Adi Susanto.
Setelah dikumpulkan, sampah plastik dicacah menjadi ukuran kecil dan dibersihkan dari kotoran. Tahap ini krusial untuk memastikan kualitas paving block yang dihasilkan.
Potongan plastik yang sudah bersih kemudian dilelehkan dan dicampur dengan agregat seperti pasir atau abu. Komposisi campuran ini penting untuk menentukan kekuatan dan durabilitas paving block.
Adonan plastik cair kemudian dicetak menjadi bentuk paving block standar menggunakan mesin cetak khusus. Setelah dicetak, paving block didinginkan dan dikeringkan hingga benar-benar padat dan siap digunakan.
Bisa Gunakan Pirolisis
Sebenarnya ada opsi lain, menurut Adi, dalam pengolahan limbah plastik ini yaitu dijadikan bahan bakar menggunakan teknik pirolisis. Teknik ini pada dasarnya seperti penyulingan yaitu plastik dipanaskan hingga meleleh, kemudian uapnya dikondensasi sehingga berubah menjadi cairan.
“Cairan tersebut kemudian ditampung, hasilnya bisa dijadikan bahan bakar. Bahan bakar ini bisa setara solar atau bensin, tergantung bahan plastiknya,” Adi menjelaskan.
Tapi untuk diterapkan pada masyarakat, teknik pirolisis ini tidak sepadan karena biayanya terlalu mahal terutama untuk pemanasannya.
“Maka akhirnya kami pada tahun 2023 memutuskan untuk mencoba mengolahnya menjadi bahan yang bisa dimanfaatkan lagi oleh masyarakat pesisir. Kemudian ketemulah paving block ini,” kata Adi.
Menurutnya, paving block dari plastik memiliki ketahanan yang baik dan lebih ringan dibandingkan beton. Namun, dari segi permukaan, material ini cenderung lebih licin, sehingga penggunaannya perlu disesuaikan dengan kondisi lapangan.
Tingkatkan Nilai Ekonomi dari Limbah
Pengolahan sampah plastik ini diharapkan menjadi salah satu solusi konkrit untuk mengurangi pencemaran pesisir serta meningkatkan nilai ekonomi dari limbah yang sebelumnya dianggap tak berguna. Paving block yang dihasilkan juga dapat dimanfaatkan untuk kebutuhan infrastruktur lokal, seperti jalan setapak, halaman rumah, atau ruang publik desa.
Program ini menjadi contoh kolaborasi lintas sektor antara masyarakat, lembaga swadaya masyarakat, akademisi, dan dunia usaha dalam menjawab tantangan lingkungan di tingkat tapak. Dengan mengubah limbah menjadi sumber daya, program ini bukan hanya menyelamatkan pesisir, tetapi juga membangun masa depan yang lebih berkelanjutan.
© 2025 All Right Reserved