
Yayasan KEHATI bersama TFCA Kalimantan sukses menggelar acara bedah buku daring berjudul Teluk Balikpapan: Ayo Lestarikan Harta Laut Kita, pada Senin, 16 Juni 2025. Kegiatan ini menjadi forum strategis untuk menggugah kesadaran publik akan pentingnya pelestarian ekosistem pesisir Teluk Balikpapan, sekaligus membuka ruang diskusi antar pemangku kepentingan lintas sektor.
Webinar ini dipandu oleh Herman Suparman Simajuntak selaku Grant Manager TFCA Kalimantan KEHATI dan diikuti 65 peserta dari berbagai latar belakang, termasuk kementerian, akademisi, dinas pemerintah, media, LSM, sektor swasta, serta masyarakat umum.
Sambutan pembuka disampaikan oleh Lestari Sumiarsi, S.Pi., M.Si., Kepala Bidang Perikanan yang mewakili Dinas Kelautan, Perikanan, dan Pertanian (DKP3) Kota Balikpapan. Ia menegaskan dukungan pemerintah daerah terhadap penerbitan buku ini sebagai instrumen edukatif dan referensi penting dalam perumusan kebijakan pengelolaan laut berkelanjutan. Lestari juga menyoroti kekayaan hayati Teluk Balikpapan yang menjadi habitat spesies langka seperti dugong, pesut, belangkas, dan penyu.
Mengangkat Kisah dari Lapangan
Sesi utama menampilkan Sri Gunawan Wibisono, jurnalis Tempo sekaligus penulis buku. Ia membagikan pengalamannya dalam menyusun buku ini, yang diawali dari keraguannya terhadap potensi Teluk Balikpapan. Namun, persepsi itu berubah total setelah ia melakukan observasi lapangan.
“Teluk ini menyimpan harta karun ekosistem yang luar biasa,” ujar Wibisono. Ia menekankan bahwa proses penulisan berlangsung cepat namun berbasis data lapangan dan wawancara sejak 2016. Minimnya riset terhadap spesies tertentu serta fenomena lingkungan seperti terdamparnya paus juga turut disorot. Buku ini ditujukan sebagai media edukasi bagi generasi muda, terutama siswa SMA, mahasiswa, dan Gen Z.
Perspektif Ahli dan Saran Penguatan
Tanggapan berikutnya disampaikan oleh Heri Saputra, aktivis konservasi laut dan pengawas perikanan Balikpapan. Ia mengungkapkan data penyelamatan 56 penyu, meskipun 10 di antaranya tidak berhasil diselamatkan. Ia juga mencatat beberapa insiden mamalia laut terdampar dan menyoroti peran komunitas seperti Marine Life Volunteer dan First Responder Stranding Marine Mammal dalam penanganan kasus tersebut.
Sementara itu, Dr. Erwinanto, M.Si., dari Universitas Mulawarman, mengapresiasi buku ini sebagai kontribusi penting bagi literasi lingkungan. Ia memberikan masukan untuk pengembangan edisi berikutnya, seperti penambahan infografis, peta spasial, sitasi ilmiah, dan digitalisasi konten. Hal ini bertujuan agar lebih inklusif serta bisa diintegrasikan ke dalam kurikulum pendidikan dan pengembangan ekonomi hijau.
Peneliti pesut dari Yayasan RASI, Dr. Danielle Kreb, turut memberikan masukan ilmiah. Ia mengingatkan perbedaan antara pesut Mahakam dan pesut pesisir Teluk Balikpapan, serta menyarankan pelengkapan data mengenai teknik penanganan mamalia laut, pencemaran, keanekaragaman mangrove dan lamun, serta mitigasi kebisingan laut dan regulasi lalu lintas kapal.
Menjawab Tantangan Implementasi
Diskusi berlangsung aktif, mencerminkan besarnya minat peserta terhadap isu konservasi. Salah satu peserta, Paula Mariana, mempertanyakan segmen sasaran buku. Wibisono menjawab bahwa buku ini dikemas dengan bahasa populer untuk memudahkan pemahaman masyarakat luas.
Pertanyaan lain diajukan oleh Andi Rusandi dari Ditjen Pengelolaan Kelautan, mengenai relevansi buku sebagai dasar kebijakan Ibu Kota Nusantara (IKN), khususnya terkait perlindungan pesut dan pengelolaan kebisingan laut. Meski buku ini sudah menyentuh isu tersebut, ia belum merinci protokol teknis seperti bubble screen atau standar desibel suara. Para narasumber menilai sinergi antar lembaga dan regulasi yang ketat menjadi syarat utama perlindungan nyata.
Deska Yunita menyarankan agar buku ini dapat diadopsi dalam kurikulum sekolah. Menanggapi hal itu, Wibisono dan Erwinanto sepakat bahwa pendekatan tersebut strategis dan memerlukan kolaborasi dengan Dinas Pendidikan. Hal ini juga termasuk untuk mengadaptasi isi menjadi buku saku agar lebih edukatif.
Seorang penyelam, Rahmah, menyampaikan kritik terhadap minimnya promosi buku di komunitas lokal. Ia mengusulkan penyebaran informasi yang lebih luas serta penambahan konten seperti peta titik selam dan kawasan wisata edukatif dalam buku agar lebih aplikatif bagi masyarakat.
Mengukuhkan Komitmen Bersama
Acara ditutup dengan kesimpulan bahwa buku Teluk Balikpapan: Ayo Lestarikan Harta Laut Kita merupakan langkah nyata dalam mendorong konservasi wilayah pesisir yang kini makin terancam. Peserta sepakat bahwa Teluk Balikpapan adalah kawasan vital yang harus dijaga bersama. Diperlukan komitmen kuat dari masyarakat, pemerintah, dan sektor swasta untuk menjaga kelestarian ekosistem ini secara berkelanjutan.
YAYASAN KEHATI
© 2025 All Right Reserved