
Organisasi Masyarakat Sipil (OMS) lokal memegang peran penting dalam mendorong pembangunan berkelanjutan, memperkuat demokrasi, serta melindungi kelompok rentan. Namun, saat ini, OMS di Indonesia berada di persimpangan jalan—terjepit antara tantangan struktural dan peluang untuk memperkuat peran mereka.
Dalam sebuah webinar yang diselenggarakan oleh Forum Kajian Pembangunan (FKP) bekerja sama dengan Ananta Fund Yayasan KEHATI pada 25 Juni 2025, Heni Kurniasih, peneliti dari The SMERU Research Institute, memaparkan temuan dari kajian dan survei nasional tahun 2024 terkait kondisi terkini OMS lokal. Paparan ini memberikan gambaran menyeluruh tentang berbagai tantangan yang dihadapi OMS serta arah penguatan ke depan.
Ketimpangan Wilayah Masih Mencolok
Salah satu temuan utama adalah ketimpangan yang tajam antarwilayah. OMS di kawasan timur dan tengah Indonesia menghadapi hambatan signifikan dibandingkan rekan mereka di wilayah barat. Keterbatasan akses terhadap informasi, pelatihan, dan sumber daya finansial memperparah posisi OMS di daerah-daerah ini.
Di sisi lain, perhatian dari pemerintah daerah terhadap keberadaan dan peran OMS juga masih minim. Banyak OMS lokal yang memiliki rekam jejak baik justru tidak dikenal pemangku kepentingan, dan kalah bersaing dengan lembaga konsultan atau aktor akademik.
Isu Prioritas dan Kebutuhan Mendesak

Lingkungan hidup, kesetaraan gender, dan ketimpangan sosial merupakan isu utama yang menjadi fokus OMS lokal. Namun, sebagian besar organisasi ini masih bergulat dengan tiga tantangan utama yang berulang: keterbatasan pendanaan, kapasitas sumber daya manusia yang rendah, dan lemahnya manajemen kelembagaan. Ketiganya dinilai sebagai faktor yang mengancam keberlanjutan OMS dalam jangka panjang.
Selain itu, dinamika pendanaan global juga berdampak langsung terhadap OMS. Kebijakan donor seperti USAID pada era Trump, misalnya, turut menyebabkan berkurangnya aliran dana ke berbagai OMS di Indonesia. Ketimpangan antarwilayah semakin diperparah oleh keterbatasan kapasitas organisasi dalam hal riset, manajemen, dan advokasi.
Meski sejumlah inisiatif kolaborasi mulai tumbuh—baik antar-NGO besar, dengan pemerintah daerah, maupun melalui forum penyedia dana—ekosistem penguatan OMS secara umum masih belum merata dan belum cukup kuat.
Inkubasi OMS: Peluang Baru yang Masih Terbatas
Salah satu pendekatan baru yang tengah dieksplorasi adalah model inkubasi, yang serupa dengan konsep inkubator bisnis. Inkubator OMS diharapkan mampu memberikan pelatihan, pendampingan teknis, hingga akses jejaring dan pembiayaan yang berkelanjutan.
Namun, survei menunjukkan bahwa sebagian besar lembaga inkubator ini masih terkonsentrasi di wilayah barat Indonesia. Hanya satu inkubator yang terdeteksi di kawasan timur, memperjelas ketimpangan akses penguatan kapasitas.
Model inkubasi ini diharapkan bisa menjawab kebutuhan OMS dalam mengembangkan unit usaha sosial, meningkatkan kapasitas manajemen, serta membangun jejaring strategis. Inkubator yang ideal harus mampu memberikan pelatihan dasar dan lanjutan, mendampingi pengembangan kelembagaan, serta memfasilitasi akses pendanaan dan kolaborasi lintas sektor.
Mendorong Kolaborasi dan Dukungan Jangka Panjang
Survei juga menggarisbawahi pentingnya pendekatan afirmatif yang fleksibel. OMS berbasis lokal membutuhkan pelatihan dasar dan dukungan teknis yang konsisten. Sementara OMS yang lebih mapan membutuhkan fasilitasi dalam hal jejaring dan strategi keberlanjutan pendanaan.
Isu-isu yang paling sering ditangani oleh OMS lokal mencakup lingkungan hidup dan perubahan iklim, kesetaraan gender, kebijakan pembangunan berkelanjutan, serta ketimpangan sosial. Layanan yang diberikan bervariasi, mulai dari pendampingan, pelatihan, penelitian, hingga advokasi.
Namun demikian, tantangan klasik tetap menghantui: keterbatasan dana, minimnya SDM, dan manajemen kelembagaan yang lemah. Hambatan lain yang disebutkan termasuk kurangnya strategi komunikasi, stigma dari luar, minimnya fasilitas operasional, serta jejaring yang belum optimal. Semua ini secara langsung memengaruhi resiliensi dan masa depan OMS.
“Penguatan OMS tidak bisa bergantung pada proyek-proyek jangka pendek. Diperlukan dukungan sistemik dan jangka panjang dari berbagai pihak—pemerintah pusat dan daerah, sektor swasta, hingga antar-OMS itu sendiri,” ujar Heni.
Membangun Ekosistem yang Inklusif
Organisasi masyarakat sipil merupakan fondasi penting bagi demokrasi dan pembangunan yang inklusif. Tanpa penguatan yang merata dan berkelanjutan, suara-suara dari akar rumput bisa hilang di tengah sistem yang belum ramah terhadap aktor independen.
Yayasan KEHATI melihat pentingnya mendukung penguatan OMS lokal sebagai bagian dari upaya mewujudkan konservasi dan pembangunan berkelanjutan yang partisipatif. Melalui kolaborasi lintas sektor, pendekatan inkubasi, dan dukungan afirmatif, ekosistem OMS yang sehat dan tangguh dapat terus tumbuh dan memperkuat perubahan di tingkat lokal.
© 2025 All Right Reserved